Pura Luhur Uluwatu

Pura Luhur Uluwatu berada di posisi nriti (barat daya), sebagai stana Hyang Widhi dalam perwujudan kekuatan sebagai Siwa-Rudra. Warna-Nya jingga, sehingga perwujudan-Nya sebagai bhuta dinamakan Bhuta Jingga. Dengan aksara suci MANG, bersenjata utama moksala, berwahanakan kerbau. Dalam diri manusia dibayangkan berstana pada usus. Dalam banten oleh para tetua Bali suci di masa lampau dirupakan sebagai dengen-dengen, sesayut sida lungguh, dengan tirta amerta kala. Hari suci-Nya adalah Selasa (Anggara).
Pemujaan Siwa ini sudah dibuktikan lewat berbagai penelitian ilmiah merupakan peradaban pra-Weda. Antara lain terbukti dengan penemuan arkeologis berupa trimukha yogiswara pasupati urdhalingga Siwa dalam peradaban Harappa. Ajaran ini juga termuat pada banyak kitab suci Hindu, hingga berbiak menjadi peradaban Weda.
Tradisi keagamaan di Bali tercatat begitu kukuh memang memuja Hyang Widhi sebagai Siwa-Rudra atau Rodasi, sebagaimana dipahami dan diformulasikan lewat momentum Purnama-Tilem. Dalam kaitan tersebut Rudra dihubungkan dengan Surya yang bersinar terang cemerlang kemerah-merahan, sebagai pelebur segala kepapaan. Kemahadahsyatan Siwa Rudra itu pula dipuja dalam upacara bhuta yajnya agung di Bali hingga Ekadasa Rudra (sebelas kemahakuasaan Siwa-Rudra), di-somya-kan sehingga menjadi Siwa Mahadewa.
Tentu saja tradisi lisan masyarakat awam tidak mengenal nama dewata dengan sebutan sebagaimana disuratkan dalam teks-teks Hindu kemudian. Ada pula sikap segan, atau malah pantang, menyebut nama dewata yang disucikan. Itu sebab, sampai kini, papar Jero Mangku Gede Uluwatu, "Kami biasa menyebut Ida Batara yang malinggih (berstana) di Meru Tumpang Tiga dengan nama Ratu Lingsir." Toh, di sini, di kaki Pulau Bali ini, orang-orang bersimpuh, berbakti, memuja Tuhan sebagai Siwa-Rudra, pelebur segenap kepapaan hidup. I Wayan Sucipta, KS
Pura Luhur Uluwatu di kawasan kaki Pulau Bali ini menyajikan "sesuatu" yang lain, memang. Bila lazimnya Anda memuja ke arah timur atau utara, di sini pemujaan justru mengarah ke barat daya (nriti). Jumlah palinggih (bangunan suci) pun tak sebanyak di pura kahyangan jagat lain. Di mandala utama (jeroan) hanya ada Meru Tumpang Tiga menghadap ke timur laut, di depannya berdiri dua pengapit. Di depan lagi ada prasada serta bangunan piyasan. Mandala ini dibatasi kori gelung agung dengan arsitektur kuno, sebagai batas demarkasi dengan kawasan di luarnya (jaba tengah).
Dikelilingi Pura Pasanakan
Pada sisi jaba tengah kini berdiri bangunan bale gong dan halaman luas tempat umat menghaturkan bakti ke hadapan Ida Batara Lingsir Siwa-Rudra di Pura Luhur. Di luar pagar pembatas sebelah kiri ada Pura Tirta. Sedangkan di jaba sisi, pada sebelah kiri pintu masuk terdapat Pura Jurit. Tempat ini oleh warga Pecatu dan sekitarnya diyakini sebagai lokasi Danghyang Nirartha moksa. Di sinilah pendeta asal Jawa Timur ini distanakan.
Karena umat yang tangkil (datang) saban piodalan kian berdesak-desakan, sejak beberapa tahun lalu di luar jalan masuk utama, di sisi kanan tangga menuju Pura Luhur, dibangun pura cukup besar. Pura ini dijadikan tempat panyawangan (semacam perwakilan, cabang) Ida Batara yang berstana di Pura Jurit. "Halaman Pura Jurit hanya mampu menampung 75 orang, maka kami berinisiatif membuat panyawangan di bawah," urai Ngurah Jaka, dari Puri Jero Kuta.
Lazimnya pura kahyangan jagat yang tersebar di Bali, Pura Luhur Uluwatu juga memiliki beberapa pura prasanak atau pasanakan. Pura pasanakan ini biasanya tersebar mengelilingi pura utama yang menjadi pusat, di tengah-tengah, sehingga komposisi keseluruhan ini mengingatkan pada pelapisan bunga teratai atau lotus, dengan putik sari di tengah-tengah.
Di wilayah Desa Pakraman Pecatu yang menjadi lokasi Pura Luhur Uluwatu sebagai pusat, tersebar pura pasanakan, antara lain Pura Dalem Pangeleburan atau Pura Labuan Sait, terletak sekitar 3 km barat daya Pecatu. Pura ini difungsikan sebagai tempat pasucian atau lokasi melasti Ida Batara Pura Uluwatu. Ada pula Pura Goa Batu Matandal, di sebelah selatan Pura Luhur Uluwatu, tepat di bawah pura utama yang menjadi pusat. Di sini tak ada palinggih, namun saat piodalan di Pura Uluwatu biasanya dihaturkan banten panyawangan ke Pura Goa Batu Matandal.
Pura pasanakan lain yang tak ada palinggih adalah Pura Karang Boma. Pura ini oleh warga Pecatu diyakini sebagai stana Ida Batara yang memelihara, melindungi, mengasuh kawanan kera di kawasan Uluwatu.
Ada lagi Pura Kulat, stana Ida Ratu Bagus Mataram, putra I Ratu Panembahan, yang berstana di Uluwatu. Palinggih yang ada berupa meru tumpang tiga dengan kelengkapan tajuk, talesu palungguhan, dan mundak sari. Di sekitarnya ada palemahan (lahan) karang kekeran 7.500 m2. Sementara Pura Selonding yang berlokasi di segara kelod (pantai selatan) Pecatu, berkaitan dengan perjalanan Danghyang Nirartha menuju ke Uluwatu. Di lokasi inilah sang pendeta disebut-sebut sempat singgah sebelum sampai ke Pura Luhur. Palinggih di Pura Selonding berupa gedong dan padmasana.
Pura Parerepan yang terletak di Banjar Tengah, Pecatu, merupakan tempat menyimpan arca suci Ida Batara Lingga. Ida Batara yang berstana di Pura Dalem Parerepan dinamakan Ida Ratu Agung pada meru tingkat tiga, Dalem Ratu Mekah berupa bangunan suci gedong, serta Dalem Dasar pada gedong tingkat dua.

| | Baca Selengkapnya »

Salya Tantra Ilmu Pengobatan Bedah Menurut Ayurveda

Di dalam kitab Sushruta Samhita dikatakan bahwa salya atau pembedahan merupakan terapi atau chikitsa yang paling baik, cepat dan berhasil untuk menanggulangi penyakit tertentu yang memerlukan pengangkatan atau menghilangkan bagian tubuh yang menyebabkan terjadinya penyakit. Menurut istilah Ayurveda, pengobatan dengan cara pembedahan dilakukan terhadap penyakit yang diakibatkan oleh penumpukan unsur tri dosha, dhatu dan mala di dalam tubuh. Dengan cara dibedah akan memberikan kesempatan kepada tubuh untuk mencapai keseimbangan dan keharmonisannya kembali. Salya atau pembedahan tidaklah hanya menyangkut pembedahan atau operasi saja, tetapi termasuk juga bagairnana menegakkan diagnosis, persiapan mengenal metode yang dipergunakan, ukuran, operasi, alat bedah, metode penanganan pasca bedah, dan mengembalikan kesehatan agar kesehatan kembali normal kembali. Cara yang biasa dipergunakan dalam pembedahan menurut Ayurveda adalah:

Dengan cara dibedah akan memberikan kesempatan kepada tubuh untuk mencapai keseimbangan dan keharmonisannya kembali. Salya atau pembedahan tidaklah hanya menyangkut pembedahan atau operasi saja, tetapi termasuk juga bagairnana menegakkan diagnosis, persiapan mengenal metode yang dipergunakan, ukuran, operasi, alat bedah, metode penanganan pasca bedah, dan mengembalikan kesehatan agar kesehatan kembali normal kembali. Cara yang biasa dipergunakan dalam pembedahan menurut Ayurveda adalah:
DAHA
Daha adalah cara menghilangkan bagian kecil tubuh yang tumbuh mengganggu (biasanya berupa tonjolan di daerah kulit) dengan cara pembakaran. Untuk membakar bagian tubuh ini dapat dipergunakan larutan kimia (ksara) atau langsung dipanasi (agni).
KSARA
Ksara atau kauterisasi merupakan cara menghilangkan dengan mempergunakan cairan, getah, larutan atau penggunaan bahan larutan kimia (alkali) untuk membakar, khusus pada penyakit tertentu, dianggap lebih baik bila dibandingkan dengan diobati mempergunakan cara pembedahan biasa. Terutama untuk penyakit kulit, ambeien, fistula terbakar dan lamakelamaan menimbulkan luka yang sulit sembuh berbekas setelah sembuh. Atau dengan mempergunakan getah batang kayu suranga (jeruk) yang belum kering betul. Batang ini dibakar, dan ujung yang tidak terbakar akan keluar getah berbuih. Getah yang masih hanyat ini dioleskan beberapa kali pada kulit yang ada benjolannya setiap hari.

Larutan alkali pada umumnya dibuat dari bahan tumbuh-tumbuhan, terutama dari abu kayu tertentu yang dibakar. Cara membuat larutan ini harus melalui prosedur tertentu. Misalnya, seorang vaidhya, tabib atau balian akan membuat larutan alkali ini. Terlebih dahulu harus menyucikan badannya pada musim gugur (sarat). Kemudian mendaki sebuah bukit atau gunung untuk mencari tanaman ashita mushka (ghanta parula) yang setengah umur. Melalui suatu upacara homa (api), dengan mempergunakan bunga putih dan merah, vaidhya memotong pohon tersebut menjadi potongan kecil-kecil, ditempatkan di tempat yang tidak berangin. Kemudian kayu ini dibakar dan abunya diambil. Dengan cara yang sama dibakar sampal menjadi abu dan daun, akar dan buah dan tanaman agnimantha, apamarga, argvadha, saptachchhada, snuhi, tilvaka, vibhitoka (vrisha) dan jenis lainnya.

Kemudian dicelupkan seukuran 8 pala (1 pala = 48 gram) bahan shankhanabhi dalam air bersama dengan abu dan tanaman agnimantha dan yang lainnya, lalu dimasak dan diaduk terusmenerus. Setelah dianggap cukup kental, dituangkan ke dalam kendi dan besi dan ditutup rapat. Hasilnya merupakan larutan alkali dengan kategori potensi ringan. Untuk membuat larutan alkali yang berpotensi sedang, harus ditambahkan bubuk obat yang dikenal dengan nama chitraka, danti, dravanti, hingu, vacha, vidha, visha dan lain-lainnya. Jika menginginkan larutan alkali dengan potensi kuat, hendaknya ditambah dengan masingmasing bahan sebanyak 8 tola (1 tola = 12 gram).

Larutan alkali yang berkualitas baik ialah yang berwarna putih, bening dan licin serta begitu ditempatkan pada bagian tubuh yang akan diobati, dengan cepat dapat membakar bagian tubuh tersebut yang menyebabkan sakit. Tempat yang diberikan larutan alkali akan kelihatan seperti terbakar, berwarna kehitaman dan meninggalkan bekas cekungan. Bila tidak tampak seperti ini, jika warnanya kemerahan seperti tembaga atau terasa sakit, gatal dan sebagainya, berarti tempat ini belum terbakar sepenuhnya. Harus diulangi lagi dengan meneteskan larutan alkali. Kalau tempat tersebut berdarah, apalagi orangnya sampai pingsan, ada rasa terbakar dan panas, berarti kelebihan larutan alkali.

Ada beberapa kontra indikasi atau hal yang harus dihindari dalam mempergunakan larutan alkali ini terutama pada penyakit tertentu. Misalnya orang yang lemah, bayi, orang tua, orang yang takut terhadap pengobatan ini, orang yang sakit perut karena busung air, wanita hamil, haid, demam tinggi, sakit pada lubang kemaluan, sakit paru kronik, orang yang menderita hus abnormal (trt, trsa), laki-laki impoten, wanita dengan peranakan terganggu, tidak dianjurkan untuk melakukan pengobatan mempergunakan larutan alkali.

Juga dilarang untuk melakukan pengobatan alkali ini pada pembuluh darah balik atau vena, saraf, sendi, tulang rawan, suturan (pertemuan dua tulang di kepala), pusar, alat kelamin, bagian tubuh yang ditutupi selaput tipis (bibir, rongga mulut, lubang telinga dan lain-lainnnya), bagian dalam kuku, bagian tubuh yang lunak, mata (kecuali kelopak mata).
AGNI
Mengobati dengan cara agni atau membakar, kadang-kadang jauh lebih baik hasilnya dibandingkan dengan cara ksara pada penyakit tertentu. Menurut isi kitab Sushruta Samhita, penyakit yang akan diobati dengan cara agni hendaknya diketahui betul bahwa penyakit tersebut memang tidak mungkin diobati dengan cara lain, tidak mempan dioperasi, sudah pasrah untuk diobati dengan cara agni.

Agni atau pembakaran (kauterisasi) dengan panas, terutama dilakukan terhadap penyakit tumor, fistula, pembengkakan pada testis (buah pelir), kaki bengkak (kaki gajah), pembengkakan pada kelenjar, kulit kehilangan warna, ulkus kronik, sakit kepala, wasir (ambeien) dan beberapa penyakit lainnya.

Pembakaran dapat dilakukan dengan mempergunakan besi panas yang membara dari berbagai bentuk, mempergunakan varti (tongkat obat pembakar), godantha (gigisapi), surya kanta (batu kristal berbagai bentuk). Cairan seperti madu, sirup, minyak dan lilin yang telah masak, dengan panas tertentu juga sering dipergunakan sebagai agni. Bentuk kauterisasi atau agni dapat berupa lingkaran titik, garis atau seluruh permukaan, tergantung indikasi dan kontra-indikasinya.

Setelah bagian tertentu yang dikehendaki untuk dibakar selesai, hendaknya diolesi dengan ghee dan madu. Sebaiknya segera diolesi dengan minyak yang ringan dan dingin pada tempat yang teiah terbakar tersebut. Suatu pembakaran dianggap berhasil, bila bagman tubuh yang dibakar itu tampak ada lasika (serum), ada terdengar bunyi seperti terbakar, warna seperti buah paimira masak, atau pendarahan terhenti, tidak merasa sakit setelah pengobatan.

Yang merupakan kontra-indikasi pada pengobatan pembakaran ini adalah sama dengan seperti pada penyakit atau keadaan pada pemakaian larutan alkali. Terutama pada mereka yang mengalami perdarahan dalam tubuh, usus atau organ pecah dan mereka yang menderita ulkus. WHD No. 451 Agustus 2004.

Oleh : Ngurah Nala
Universitas Hindu Indonesia

| | Baca Selengkapnya »

Omed Omedan

Omed-Omedan atau bahasa indonesia nya adalah cium-ciuman(tarik-menarik), sebuah tradisi di Pulau Dewata, Bali.

omed-omedan, dari arti bahasa Indonesia nya memang banyak yang penasaran sekaligus membayangkannya.Omed-omedan atau juga disebut Med-medan adalah acara ciuman massal yang rutin digelar oleh warga Banjar Kaja, Desa Sesetan, Denpasar Selatan, pada setiap setiap tanggal 1 tahun Caka, atau sehari setelah Hari Nyepi. Menurut cerita masyarakat setempat, acara ini sudah diwariskan sejak tahun 1900-an.

Omed-omedan melibatkan sekaa teruna-teruni atau pemuda-pemudi umur 17 tahun hingga 30 tahun atau yang sudah menginjak dewasa namun belum menikah. Dalam bahasa Bali, Med-medan sama dengan paid-paidan, berarti saling tarik menarik. Jadi med-medan adalah ritual saling tarik-menarik antara kelompok pemuda dengan kelompok pemudi untuk memohon keselamatan seluruh warga desa.

Prosesi med-medan dimulai dengan persembahyangan bersama untuk mohon keselamatan. Usai sembahyang, peserta dibagi menjadi dua kelompok, laki-laki dan perempuan. Kemudian kedua kelompok tersebut mengambil posisi saling berhadapan di jalan utama desa. Setelah seorang sesepuh desa memberikan aba-aba, kedua kelompok saling mendekat. Begitu bertemu, peserta terdepan saling tarik menarik lalu berciuman disaksikan ribuan penonton. Prosesi tersebut dilakukan secara bergantian sehingga semua peserta kebagian berciuman.

Tidak semua masyarakat Bali, bahkan masyarakat Sesetan Kaja sendiri, menyukai tradisi ini. Pernah pada 1970-an para sesepuh banjar memutuskan agar acara ini ditiadakan. Namun, tak lama berselang, di pelataran Pura terjadi perkelahian yang amat seru dua ekor babi, dan keduanya menghilang begitu saja di tengah perkelahian. Oleh warga, peristiwa itu dianggap sebagai pertanda buruk. Maka, med-medan pun kembali dilangsungkan.

Jauh sebelum itu, ada kisah menarik mengenai med-medan. Saat itu, begitu Hari Nyepi usai, masyarakat Puri Oka, sebuah kerajaan kecil di Denpasar selatan, menggelar permainan med-medan alias saling tarik-menarik antara kelompok pemuda dan pemudi. Saking serunya, acara tarik-menarik itu berubah menjadi acara saling merangkul dan situasi berubah gaduh karenanya. Raja yang saat itu sedang sakit pun marah besar.Dengan terhuyung-huyung beliau keluar hendak menghardik warganya. Namun, begitu melihat adegan itu, tiba-tiba sakit Sang Raja mendadak sirna dan ia pun sehat seperti sediakala. Raja lalu mengeluarkan titah agar med-medan dilaksanakan tiap tahun saat ngembak geni (menyalakan api pertama)sehari setelah Hari Raya Nyepi.

Begitu diselenggarakan lagi, giliran Pemerintah Kolonial Belanda yang terusik melihat upacara itu. Belanda melarang ritual itu, namun warga yang taat tidak menghiraukan larangan itu. Acara ciuman massal itu pun berlangsung hingga sekarang.

Tapi jangan berfikir semudah itu untuk bisa mendaratkan ciuman kamu pada sang gadis, karena dalam acara itu selain tarik menarik juga ada acara siram-siraman, sekali kesempatan dan gagal, maka kamu akan di siram beramai-ramai.

| | Baca Selengkapnya »

PAN BALANG TAMAK


Dikisahkan pada masa kerajaan Bali Kuno, hidup seorang pria bernama Pan Balang Tamak. Pria ini dikenal sebagai orang yang cerdik, namun lucu.

Suatu hari, di Banjar akan diadakan kerja bakti karena Banjar akan dipakai untuk tempat upacara adat. Kelian mengumumkan di hadapan khalayak ramai. “Esok, tepatnya saat ayam sudah turun dari kandangnya, diharapkan para kepala keluarga hadir ke Bale Banjar untuk kerja bakti. Silakan bawa peralatan sendiri-sendiri. Jika ada yang mangkir atau tidak membawa peralatan, akan dikenai sangsi adat berupa denda sebesar 5 gobang,” demikian Kelian berkata. 

Pan Balang Tamak yang hadir di antara khalayak ramai mencari akal supaya tidak mendapat denda karena ia tidak mempunyai peralatan yang disebutkan. Ide licik pun tersembul di dalam benaknya. Saat malam menjelang, Pan Balang Tamak pergi ke Bale Banjar untuk menaruh jaje uli selem* yang dibentuk serupa tahx anjing. Setelahnya, ia pulang untuk tidur hingga esok hari. 

***

Keesokan harinya, saat ayam sudah keluar dari kandangnya, semua orang berkumpul ke Banjar. Para Krama yang sudah bersiap dengan peralatan mereka terkejut saat Bale Banjar banyak berserakan tahx anjing. Di saat seperti itu Pan Balang Tamak yang datang dengan gagah berani tanpa membawa peralatan segera memainkan perannya. Hal ini membuat para Krama lainnya terkejut.

“Mengapa kamu tidak membawa peralatan, Pan?”

“Maaf, Jero, saya memang tidak membawa peralatan. Tapi, saya punya penawaran untuk kalian semua. Jika saya membersihkan tahx anjing ini, saya merasa tidak perlu membayar denda dan atas jasa itu, saya meminta bayaran lima gobang. Bagaimana?” tukas Pan Balang Tamak. 

Para Krama setuju dengan tawaran yang diajukan Pan Balang Tamak. Tapi, namanya saja orang licik, ia belum puas dengan semua itu. Ia menantang para Krama yang ada di situ untuk memakan tahx anjing yang berserakan. 

“Oiya, sebelum melakukannya, saya punya penawaran lain untuk kalian. Barangsiapa salah satu dari kalian atau semuanya sekaligus berani memakan tahx anjing ini semuanya, maka akan saya beri uang sepuluh gobang. Bagaimana?”

Tantangan itu dianggap suatu hal yang gila yang ditawarkan oleh Pan Balang Tamak. Sehingga, mereka semua hanya tertawa geli dan menganggap Pan Balang sudah gila. 

“Lakukan saja sendiri, masing-masing dari kami akan membayarmu sebesar lima gobang jika kamu sanggup menghabiskan tahx tersebut!”

Pan tersenyum mendengar perintah itu. Sudah diduganya mereka akan berkata seperti. Maka, Pan Balang pun menghabiskan tahx anjing jadi-jadian itu. Dan ia pun mendapat lima gobang dari masing-masing orang yang hadir di sana. Kenalah para Krama dengan tipu daya Pan Balang Tamak.

Suatu ketika di Bulan Berburu, Banjar tempat Pan Balang Tamak tinggal mendapat giliran meboros. Kelian Banjar kemudian melakukan arah-arahan kepada para Kramanya.

“Esok, setelah ayam keluar dari kandang, semua Krama diharapkan berkumpul di Bale Banjar dengan membawa anjing untuk berburu ke alase**! Jika tidak, akan didenda!”

Semuanya pulang dalam keadaan mengerti.

***
Keesokan harinya…

Pan Balang Tamak bangun pagi-pagi sekali. Ia menyiapkan anjing serta segala sesuatunya yang digunakan untuk merobos. Setelah semuanya siap, Pan Balang Tamak duduk-duduk di depan sambil sesekali melihat apakah ayamnya sudah keluar kandang atau belum. 

Tunggu ditunggu ternyata ayamnya baru keluar kandang ketika hari sudah sore.

Bergegaslah Pan Balang Tamak menyusul para Krama lain yang sudah berburu sejak pagi. Sesampainya di hutan, Pan Balang Tamak menemui para Krama lain. Ia melihat mereka sudah hendak pulang dengan hasil buruan masing-masing, seperti kijang, celeng, dan lainnya. 

Melihat kedatangan Pan Balang Tamak, Kelian Banjar segera mengeluarkan buku catatan dosa untuk mencatatkan denda Pan Balang Tamak. “Karena kamu datang telat, kamu harus membayar denda.”

Tapi, laki-laki banyak akal itu berdalih, “Tunggu dulu Jero, saya kan tidak bersalah. Mengapa harus membayar denda? Kemarin kan arahan dari Kelian, harus datang ketika ayam sudah keluar dari kandang, dan ayam saya baru keluar sore ini. Jadi, saya tidak salah kan?”

Kelian Banjar diam sejenak. Rasanya betul juga ia berkata begitu kemarin. Tapi, ia kesal dengan kelakuan Pan Balang Tamak, jadi ia mencari kesalahan lain. “Iya, itu benar. Tapi kamu tidak membawa anjing galak untuk berburu. Karena itu, kamu harus didenda!” 

Pan Balang Tamak lagi-lagi menyangkal, “Eits… Eits… Jero salah duga kalau begitu. Justru anjing yang saya bawa adalah anjing paling galak. Mau bukti?”

Pan Balang Tamak lalu menggendong anjing dan melemparkan anjingnya ke dui nget-nget***. Seketika itu juga, anjing Pan Balang Tamak melolong keras—lebih keras dari anjing siapa pun yang ada di situ. Pan Balang Tamak mengatakan bahwa anjing yang melolong keras adalah anjing yang galak. Kelian Banjar dan para Krama setuju dengan hal itu. Sehingga, loloslah Pan Balang Tamak dari denda. Kembali Kelian Banjar dikelabui akal bulus Pan Balang Tamak. Hahaha…

| | Baca Selengkapnya »

LUBDAKA : SANG PEMBURU


Dikisahkan bahwa Lubdaka adalah seorang pemburu binatang hutan yang memakan atau menjual daging hasil buruannya. Pekerjaannya itu dilakukannya setiap hari. Namun, suatu hari, nasibnya sedang apes. Di hari yang apes itu, Lubdaka tidak memperoleh seekor pun binatang untuk dimakan atau dijual. Hal yang lebih malang baginya, karena saking ingin mendapatkan binatang buruan, ia lupa waktu hingga hari sudah gelap. Kegelapan di hutan, membuat Lubdaka tidak bisa mencari jalan untuk pulang. Walhasil, ia pun memilih memutuskan untuk menginap saja di hutan. Untuk itu, ia mencari pohon yang besar untuk tempatnya tidur karena takut terhadap ancaman binatang buas.

Kakinya membawa Lubdaka pada pohon Bila yang di bawahnya terdapat air telaga yang jernih, dengan sebuah pelinggih dan Lingga. Pelan-pelan tapi pasti, Lubdaka memanjat pohon Bila. Setelah mendapat posisi yang nyaman, Lubdaka bersandar, tapi berusaha tidak tertidur,  walaupun ia mengantuk. Pasalnya, jika ia sampai tertidur pulas, tentu ia bakal terjatuh. Maka dari itu, Lubdaka memetik daun-daun pohon Bila dan menjatuhkannya ke bawah, sehingga mengenai Lingga yang ada di bawahnya. Lubdaka sendiri tidak menyadari bahwa malam itu adalah malam Siwalatri, di mana Dewa Siwa tengah melakukan yoga.

Sambil membuang daun-daun pohon Bila ke bawah, tanpa terasa Lubdaka mulai menyesali segala perbuatan jahat yang pernah dilakukannya sepanjang hidup, baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Di atas pohon Bila itu, diam-diam hatinya bertekad untuk berhenti bekerja sebagai pemburu.

Lamunan panjang Lubdaka akan dosa-dosanya seolah mempercepat waktu. Rasanya baru sebentar saja Lubdaka melamun, tapi tahu-tahu pagi pun tiba. Itu menggambarkan bahwa dosa-dosa yang pernah dilakukannya sudah terlalu banyak dan tidak bisa diingatnya satu per satu lagi dalam waktu satu malam. Karena sudah pagi, ia berkemas-kemas pulang ke rumahnya.

Sejak hari itu, Lubdaka beralih pekerjaan sebagai petani. Tapi, petani tidak memberinya banyak kegesitan gerak, sehingga tubuhnya mulai kaku dan sakit, yang bertambah parah dari hari ke hari. Hingga, akhirnya hal ini membuat Lubdaka meninggal dunia.

Dikisahkan selanjutnya, roh Lubdaka, setelah lepas dari jasadnya, melayang-layang di angkasa. Roh Lubdaka bingung tidak tahu jalan harus ke mana. Pasukan Cikrabala kemudian datang hendak membawanya ke kawah Candragomuka yang berada di Neraka.

Di saat itulah, Dewa Siwa datang mencegah pasukan Cikrabala membawa roh Lubdaka ke kawah Candragomuka. Di situ, terjadi diskusi antara Dewa Siwa dengan pasukan Cikrabala. Menurut pasukan Cikrabala, roh Lubdaka harus dibawa ke neraka. Ini disebabkan, semasa ia hidup, ia kerap membunuh binatang. Pendapat itu mendapat tanggapan lain dari Dewa Siwa. Menurut Dewa Siwa, walaupun Lubdaka kerap membunuh binatang, tapi pada suatu malam di malam Savalatri, Lubdaka begadang semalam suntuk dan menyesali dosa-dosanya di masa lalu. Sehingga, roh Lubdaka berhak mendapatkan pengampunan. Singkat cerita, roh Lubdaka akhirnya dibawa ke Siwa Loka.

| | Baca Selengkapnya »

Anggur Bali


Anggur Bali (Alphonse Lavallée) ketika dipertegas oleh Menteri Pertanian RI, sebenarnya merupakan varietas untuk bahan minuman, bukan untuk konsumsi buah segar. Perkembangan anggur Bali sebenarnya dikembangkan sejak Penjajahan Belanda, yaitu tahun 1900-an. Pada masa itu, dibangun Kebun Percobaan Banjarsari di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, dengan koleksi sekitar 30 varietas anggur. Namun yang kemudian paling populer adalah Varietas anggur yang dikembangkan di Probolinggo (Jatim) dan Buleleng (Bali).

Perkembangan budidaya anggur di Indonesia tidak terlepas dari upaya penyebaran agama Kristen Katolik oleh Belanda. Kebiasaan orang Belanda untuk menyediakan minuman anggur dalam perayaan Ekaristi menjadi alasan berkembangnya perkebunan anggur di Indonesia. Dalam ajaran Katolik yang diyakini oleh Bangsa penjajah dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK), Kanon 924 memang mengatur penggunaan anggur dalam Perayaan Ekaristi. Sehingga anggur yang dibudidayakan oleh Belanda adalah anggur untuk bahan minuman wine.

Anggur Bali yang merupakan varietas Alphonse Lavallée, dikembangkan pertama kali oleh Alphonse Lavallée (1791 - 1873), pendiri hotel the École Centrale Paris. Jenis anggur ini dikembangkan oleh Alphonse sebagai bahan baku pembuatan minuman wine di hotel. Karena dari awal anggur Bali merupakan bahan baku minuman wine, sifat buahnya sangat mudah hancur, sesuai dengan sifat anggur wine. Sehingga sampai sekarang petani tidak begitu memahami ini, padahal sudah terlihat sekali ciri dan kelemahan anggur Bali yang terkenal sangat cepat busuk, karena bukan jenis anggur untuk dikonsumsi langsung sebagai buah segar.

| | Baca Selengkapnya »